4.1
Pengertian
Analisis Sistem
Analisis sistem adalah sebuah teknik
pemecahan masalah yang menguraikan sebuah sistem menjadi komponen-komponennya
dengan tujuan mempelajari seberapa bagus komponen-komponen tersebut bekerja dan
berinteraksi untuk meraih tujuan mereka.
Analisis mungkin adalah bagian terpenting
dari proses rekayasa perangkat lunak. Karena semua proses lanjutan akan sangat
bergantung pada baik tidaknya hasil analisis. Ada satu bagian penting yang
biasanya dilakukan dalam tahapan analisis yaitu pemodelan proses bisnis.
Model proses adalah model yang memfokuskan
pada seluruh proses di dalam sistem yang mentransformasikan data menjadi
informasi (Harris, 2003). Model proses juga menunjukkan aliran data yang
masuk dan keluar pada suatu proses. Biasanya model ini digambarkan dalam bentuk
Diagram Arus Data (Data Flow Diagram / DFD). DFD meyajikan
gambaran apa yang manusia, proses dan prosedur lakukan untuk mentransformasi
data menjadi informasi.
External Entity melambangkan
sumber data (dari mana data berasal) atau penerima informasi (tujuan akhir dari
data). Contoh external entity antara lain konsumen yang
memesan suatu produk, manajer yang mengevaluasi laporan penjualan mingguan, dan
lain-lain.
Proses adalah serangkaian langkah yang
dilakukan untuk memanipulasi data, misalnya pengumpulan, pengurutan, pemilihan,
pelaporan, peringkasan, analisis dan lain-lain.
Data store adalah tempat
untuk menyimpan data untuk digunakan kemudian. Nama yang pada data store ini
merupakan abstraksi dari data yang disimpan. Namun detil / item data apa saja
yang ada, bagaimana cara akses, atau bagaimana mengorganisasinya tidak
dijelaskan dalam notasi ini.
Data flow menunjukkan
aliran data dari satu tempat ke tempat lain. Perpindahan data ini dapat
dari external entity ke proses, antar proses satu dengan yang
lain, dari proses ke data store. Dalam penggambarannya setiap
data flow harus diberi label yang menunjukkan data apa yang
mengalir.
Context diagram adalah DFD ruang lingkup
dari sistem yang menunjukkan batas-batas sistem, external entitiy yang
berinteraksi dengan sistem dan aliran data utama antara external entity dengan
sistem. Context diagram menggambarkan keseluruhan sistem dalam
suatu proses tunggal. Pada proses ini diberi notasi angka 0 untuk
menunjukkan ini adalah level paling abstrak dari sistem.
Data flow yang tampak
pada gambar menunjukkan ada satu data flow yang masuk ke
sistem dan ada tiga data flow yang keluar dari sistem.
Masing-masing data flow diberi label yang menunjukkan data apa
yang sedang mengalir.
Setelah context diagram
terbentuk dengan benar maka langkah selanjutnya adalah merinci context diagram
tersebut dalam DFD Level 0. DFD Level 0 adalah DFD yang merepresentasikan
proses-proses, data flow dan data storage utama
di dalam sistem. DFD Level 0 ini akan digunakan sebagai dasar untuk membangun
DFD yang level dibawahnya (Level 1, 2, 3, .. dst) atau biasa disebut sebagai
dekomposisi DFD.
Masing-masing proses diberi nomor kode
1.0, 2.0, 3.0 dan 4.0. Jumlah external entity harus tetap
yaitu 3 demikian puladata flow yang keluar dan masuk (input
dan output) ke dalam sistem harus sama dengan pada context diagram.
Sedangkan data flow yang berada di dalam sistem (yang mengalir
antar proses dan atau data storage) tergantung pada proses dan data
storage yang terlibat.
Ada dua data storage yaitu Goods
Sold File dan Inventory File. Kedua data storage ini
digunakan untuk menyimpan data dari suatu proses. Data ini juga akan dibaca /
diakses oleh proses yang lain. Sebagai contoh data storage Inventory
File berisi data hasil proses 3.0(Update Inventory File). Data
ini akan digunakan proses 4.0 (Produce Management Reports) untuk membuat
laporan yang akan disampaikan pada Restaurant Manager.
DFD level berikutnya yaitu level 1, 2 dan
seterusnya diperlukan apabila level sebelumnya dirasa kurang detil. Sebagai
contoh apabila DFD level 0 (Gambar 14.12) dirasa belum cukup detil menunjukkan
arus data yang mengalir, maka dapat dibuat detilnya pada DFD level 1.
Bagian yang harus didetilkan biasanya
adalah proses. Detil pada level berikutnya, mungkin pada semua proses atau
hanya pada proses-proses tertentu saja. DFD pada level 0 maupun level di
bawahnya memiliki kesamaan aturan yang tersaji.
4.2
Teknik
Pengumpulan Data
4.2.1
Teknik Wawancara
Pengumpulan data dengan menggunakan wawancara mempunyai beberapa keuntungan
sebagai berikut :
1.
Lebih mudah dalam menggali bagian
sistem mana yang dianggap baik dan bagian mana yang dianggap kurang baik.
2.
Jika ada bagian tertentu yang
menurut anda kurang digali lebih dalam, anda langsung
menyatakan kepada narasumber.
3.
Dapat menggali kebutuhan user secara
lebih luas.
4.
User dapat
mengungkapkan kebutuhannya secara lebih bebas
Selain mempunyai beberapa kelebihan tersebut, teknik
wawancara juga mempunyai beberapa kelemahan. Berikut ini adalah beberapa kelemahan
dari teknik wawancara :
1. Wawancara akan
sulit dilakukan jika narasumber kurang dapat mengngkapkan kebutuhannya.
2. Pertanyaan
dapat menjadi tidak terarah, terlalu fokus pada hal-hal tertentu dan
mengabaikan bagian lainnya.
Berikut ini adalah beberapa panduan dalam melakukan
kegiatan wawancara agar memperoleh data yang diharapkan :
1. Buatlah jadwal
wawancara dengan narasumber dan beritahukan maksud dan tujuan wawancara.
2. Buatlah panduan
wawancara yang akan anda jadikan arahan agar pertanyaan dapat fokus kepada
hal-hal yang dibutuhkan.
3. Gunakan
pertanyaan jelas dan mudah dipahami.
4.
Cobalah untuk menggali mengenai
kelebihan dan kekurangan sistem yang telah berjalan sebelumnya.
5. Anda boleh
berimprovisasi dengan mencoba menggali bagian-bagian tertentu yang menurut Anda
penting.
4.2.2 Teknik
Observasi
Pengumpulan
data dengan menggunakan observasi mempunyai keuntungan yaitu :
1.
Analisis dapat melihat langsung
bagaimana sistem lama berjalan.
2.
Mampu menghasilkan gambaran lebih
baik jika dibandingkan dengan teknik lainnya.
Sedangkan
kelemahan dengan menggunakan teknik observasi adalah :
1.
Membutuhan waktu cukup lama karena
jika observasi waktunya sangat terbatas maka gambaran sistem secara keseluruhan
akan sulit diperoleh.
2.
Orang-orang yang sedang diamati
biasanya perilakunya akan berbeda dengan perilaku sehari-hari (cenderung
berusaha terlihat baik). Hal ini akan menyebabkan gambaran yang diperoleh
selama observasi akan berbeda dengan perilaku sehari-hari.
3.
Dapat menggangu pekerjaan
orang-orang pada bagian yang sedang diamati.
Berikut ini
adalah beberapa petunjuk untuk melakukan observasi :
1.
Tentukan hal-hal apa saja yang akan
diobservasi agar kegiatan observasi menghasilkan sesuai dengan yang diharapkan.
2.
Mintalah izin kepada orang-orang
yang berwenang pada bagian yang akan diobservasi.
3.
Berusaha sedikit mungkin agar tidak
menggangu pekerjaan orang lain.
4.
Jika ada yang Anda tidak mengerti,
cobalah bertanya. Jangan membuat asumsi sendiri.
4.2.3 Teknik
Kuisioner
Pengumpulan data dengan menggunakan kuisioner mempunyai keuntungan yaitu :
1.
Hasilnya lebih objektif, karena
kuisioner dapat dilakukan kepada orang banyak sekaligus.
2.
Waktunya lebih singkat.
Sedangkan kelemahan pengumpulan data dengan menggunakan kuisioner adalah
sebagai berikut :
1.
Responden cenderung malas untuk mengisi
kuisioner.
2.
Sulit untuk membuat pertanyaan yang
singkat, jelas, dan mudah dipahami.
Berikut ini adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membuat
kuisioner menghasilkan data yang baik :
1.
Hindari pertanyaan isian, lebih baik
pilihan ganda, karena responden biasanya malas untuk menulis banyak, dan jika
reponden menuliskan sesuatu sering kali susah untuk dipahami. Dan juga dengan
pertanyaan pilihan ganda, akan memudahkan Anda untuk melakukan rekapitulasi
data hasil kuisioner.
2.
Buatlah pertanyaan yang tidak
terlalu banyak.
3.
Buatlah pertanyaan singkat, padat,
dan jelas.
4.3
Jenis
kebutuhan
4.3.1 Functional
Requirement
Kebutuhan yang terkait
dengan fungsi produk, misalnya sistem informasi harus mampu mencetak laporan,
sistem informasi harus mampu menampilkan grafik, dan lain-lain.
4.3.2 Development
Requirement
Kebutuhan yang terkait
tools untuk pengembangan sistem informasi baik perangkat keras maupun perangkat
lunak, misalnya sistem informasi dikembangkan dengan menggunakan alat bantu
Eclipse untuk pengembangan dan StarUML untuk pemodelan.
4.3.3 Deployment
Requirement
Kebutuhan terkait
dengan lingkungan di mana sistem informasi akan digunakan baik perangkat lunak
maupun perangkat keras. Contoh kebutuhan ini misalnya sistem informasi harus
mampu berjalan pada server dengan spesifikasi perangkat keras memory GB DDR3,
processorlntel Xeon Quad Core, dan spesifikasi sistem operasi Ubuntu Server 9.
4.3.4 Performance
Requirement
Kebutuhan yang terkait
dengan ukuran kualitas maupun kuantitas, khususnya terkait dengan kecepatan,
skalabilitas, dan kapasitas. Misalnya sistem informasi tersebut hams mampu
diakses oleh minimal 1000 orang pada waktu yang bersamaan.
4.3.5 Documentation
Requirement
Kebutuhan ini terkait
dengan dokumen apa saja yang akan disertakan pada produk akhir. Dokumen yang biasanya
dihasilkan pada tahap akhir pengembangan sistem informasi antara lain dokumen
teknis (mulai dan dokumen perencanaan proyek, analisis, desain, sampai
pengujian), user manual, dan dokumen pelatihan.
4.3.6 Support
Requirement
Kebutuhan yang terkait
dukungan yang diberikan setelah sistem informasi digunakan. Dukungan teknis
tersebut misalnya adanya pelatihan bagi calon pengguna.
4.3.7 Miscellaneous
Requirement
Kebutuhan
ini adalah kebutuhan-kebutuhan tambahan lainnya yang belum tercakup pada
beberapa kategori kebutuhan yang telah terdefinisi di atas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar